Friday, 25 December 2015

Perkembangan Pesat Masjid Al-Barokah

Oleh: Tika Kania Nurazizah

Hari Senin senja itu langit kelabu Cibiru beradu dengan langkah-langkah kaki yang lelah terkuras kegiatan sehari-hari. Usai menuntaskan Ujian Akhir Semester sore itu, Saya harus bergegas ke Masjid Al-Barokah Margahayu untuk menuntaskan tugas yang lain yaitu tugas peliputan masjid di kawasan Kota Bandung. Beruntungnya, separuh tenaga di senja itu masih cukup untuk mengayuh kaki menuju Masjid yang terletak di Jalan Tata Surya nomor 36 Kelurahan Majahlega Kecamatan Rancasari Margahayu Raya Kota Bandung.

Semua perlengkapan liputan disiapkan, seperti catatan, handphone, dan baris-baris pertanyaan wawancara pun sudah siap. Rasanya semuanya baik-baik saja, namun ternyata --dan untungnya-- Saya menghadapi cucuran gerimis langit Cibiru. “Cukup gerimis saja, tidak lebih”, gumam Saya.
Setelah semua dirasa baik-baik saja, kini saatnya sejenak melemaskan otot kaki dengan duduk santai di dalam angkot Cicadas-Cibiru yang akan mengantarkan Saya menuju pintu gerbang komplek perumahan Margahayu. Angkot itu menebas jalan Soekarno Hatta dengan empat penumpang di dalamnya yang ikut naik dari Bundaran Cibiru. Semburan angin basah membelai dari luar jendela. Tetesan gerimis yang luput terusap di kulit semakin mengundang gigilan. Udara senja itu cukup dingin, meskipun tak sedingin lemari pendingin.

Kurang dari 15 menit Saya sudah menginjakkan kaki di kawasan perumahan Margahayu. Beberapa langkah dari tempat Saya menginjakkan kaki itu, Saya disambut beberapa tukang becak. Salah seorang tukang becak dengan wajah segar dan tubuh kurus menawarkan jasanya. Awalnya Saya berniat berjalan kaki menuju Masjid Al-Barokah, namun menyadari bahwa berjalan kaki menuju masjid harus ditempuh cukup jauh seketika mengingatkan pada pegal yang masih melekat di betis dan persendian kaki. Akhirnya niat itu saya urungkan.

Suara lembut berderik kayuhan becak itu mengiringi sepanjang jalan menuju Masjid. Kurang dari 10 menit akhirnya Saya menginjakkan kaki di pelataran Masjid Al-Barokah. Saya bergegas mencari Ustadz Karim yang sebelumnya sudah berjanji membantu Saya dalam tugas peliputan ini. Ustadz Karim adalah alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menjabat anggota pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al-Barokah.

Tidak lama kemudian mata Saya menangkap sesosok wajah yang dikenal berjalan dari luar masjid menuju pintu masuk sambil memeluk tumpukkan jemuran. Seketika Saya langsung memanggil namanya, “A Karim!”. Sontak Ia terkaget. Ia menoleh. Tumpukkan jemuran yang dibawanya hampir saja melompat dari pelukannya. “Eeh, sugan teh saha”, ucapnya kesal dengan bahasa Sunda yang kental. Saya buru-buru meminta maaf karena sudah mengagetkannya.

Sambil merapihkan jemuran Ia mempersilakan Saya beristirahat di sebuah ruangan di depan masjid. Ruangan itu adalah ruangan khusus bagi anggota Dewan Kemakmuran Masjid Al-Barokah. Di dalam ruangan itu terdapat dua meja besar yang berhadapan, menyisakan ruang di antaranya. Di antara kedua meja tersebut terdapat sebuah lemari berisi tumpukan berkas-berkas masjid.
Tak berapa lama kemudian Ustadz Karim pun masuk. Wawancara pun dimulai. Ustadz Karim mulai menceritakan dari mulai bagaimana sejarah masjid Al-Barokah berdiri, kondisi masjid, hingga kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah digelar di Masjid ini.

Masjid yang sebelumnya bernama Yayasan Miftahul Barokah ini berdiri pada tahun 1987 dengan ukuran awal sebesar 8x8 meter persegi . Dengan diketuai oleh H. Undang, Yayasan tersebut berjalan hingga tahun 2000. Pada tahun tersebut Yayasan Miftahul Barokah berganti menjadi Dewan Kemakmuran Masjid Al-Barokah. Seiring pergantian Yayasan tersebut, berganti pula pimpinannya. DKM Al-Barokah kemudian dipimpin oleh H. Ohan Setiawan. Pada tahun 2005 diganti oleh H. Cecep Syarif Bastaman yang memimpin hingga sekarang (2015).

Sebelum didirikan sebuah masjid, tanah tempat berdirinya masjid tersebut sempat mengundang perdebatan di kalangan masyarakat sekitar mengenai “akan didirikan apa di tanah tersebut”. PT Margahayu Land sebagai developer di kawasan Metro menyerahkan sepenuhnya penggunaan tanah tersebut kepada masyarakat. Usulan saling menyambut, mulai dari dijadikan taman, sarana olahraga, hingga tempat ibadah. Setelah dirundingkan bersama melalui hasil voting akhirnya diputuskan bahwa tanah tersebut akan didirikan sebuah tempat ibadah. Maka berdirilah Masjid Al-Barokah seperti saat ini.
Masjid Al-Barokah dibangun di atas tanah seluas 200 meter persegi . Awal berdirinya masjid itu hanya seluas 8x8 meter persegi. Kemudian pada tahun 2009 Masjid Al-Barokah direnovasi untuk memperluas ukuran masjid hingga menjadi 13x13 meter persegi seperti saat ini. Ukuran tersebut belum termasuk pada gazebo di depan masjid. Masjid Al-Barokah memiliki Sembilan ruangan. Dua ruang penyimpanan barang, satu ruang tidur para ustadz, satu ruang utama untuk sholat, satu kantor DKM, dan empat ruang toilet.

Selain itu, Masjid Al-Barokah memiliki tiga pintu; satu di gerbang masuk masjid, satu di ruang utama masjid, dan satunya lagi di samping selatan masjid. Tidak seperti masjid pada umumnya, masjid Al-Barokah tidak memiliki kubah. Namun, empat menara kecil di sudut belakang masjid, dua menara kecil di gerbang pintu masuk, dan tulisan “Masjid Al-Barokah” di gerbang masuk masjid cukup menandakan bahwa bangunan tersebut benar-benar bangunan masjid.

Saya melirik jam dinding persis di atas kepala Ustadz Karim. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.  Selain pegal di betis dan persendian, tubuh pun dikunjungi lelah. Kantuk merayap dan menggantung di mata. Namun wawancara ini belum selesai. Ada beberapa pertanyaan yang belum dijawab yaitu mengenai DKM, majelis taklim dan kegiatan keagamaan lainnya.
Pada hari Jum’at Masjid Al-Barokah dipenuhi jama’ah yang berjumlah 12 shaf atau 240 jamaah. Pada saat sholat Maghrib jumlah jamaahnya sebanyak 3 shaf atau 60 orang. Pada sholat Shubuh jamaahnya sebanyak 2 shaf atau kurang lebih 40 orang.

Saat ini pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al-B arokah dipimpin oleh Haji Ohan Setiawan. Beliau memimpin lima bidang di bawahnya yaitu Bidang Pendidikan,  Peribadatan dan Dakwah, Bidang Pemeliharaan dan Perlengkapan, Bidang Majelis Taklim, Bidang pembangunan dan Lingkungan Masjid, Bidang Sosial, Bidang Usaha dan Dana, dan Bidang Remaja Masjid. Ustadz Karim sendiri menjabat anggota di Bidang Pendidikan, Peribadatan dan Dakwah bersama Ustadz Ishaq yang sama-sama alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selain itu, Haji Ohan Setiawan dibantu oleh seorang sekretaris dan bendahara.

 Di bidang majelis taklim diketuai oleh Hajjah Iis Sofyatie Unang yang memimpin lima bidang di bawahnya, yaitu Bidang Organisasi dan Litbang, Bidang Pendidikan dan Dakwah, Bidang Ekonomi dan Koperasi, Bidang Sosial dan Budaya, dan Bidang Kesehatan dan Lingkungan. Setiap hari Selasa dan Jum’at majelis taklim ini rutin mengadakan pengajian yang diisi oleh Ustadz Sholeh, Ustadz Karim, dan Ustadz Nur.

Selain mengadakan pengajian majelis taklim, pengajian untuk anak-anak pun sering diadakan pada hari Jum’at dan Selasa setiap usai maghrib yang dipimpin oleh Ustadz Karim.
Selama kurun waktu tahun 2015 Masjid Al-Barokah sering mengadakan Peringatan Hari Besar Islam yang diisi oleh mubaligh yang berasal dari Kota Bandung dan luar Kota Bandung, diantaranya adalah Ustadz Kholilullah yang mengisi acara maulid Nabi, KH. Aceng Aujib Nasuha, M.Ag yang mengisi acara Isra’ dan Mi’raj, KH. Asep Sudarman, M.Ag., dan KH. Khoer (Duo Akang) yang mengisi acara Muharram.

Tepat pukul 21.30 akhirnya wawancara itu usai. Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa dalam tubuh Saya beranjak dari Masjid Al-Barokah. Tidak lupa pula Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ustadz Karim, atau Saya sering menyapanya A Karim. Beruntungnya, selama perjalanan pulang dari Masjid Al-Barokah tak ada lelehan hujan.

Wednesday, 4 November 2015

Review Film The Bang Bang Club

Film ini menceritakan tentang jurnalis fotografi yang berjuang mendapatkan foto terbaik dengan memasuki wilayah konflik masyarakat karena perbedaan ras. Film ini diangkat dari kisah nyata yang di alami empat orang jurnalis fotografi (Greg Marinovich, Joao Silva, Kevin Carter, dan Ken Oesterbtroek) pada tahun 1990-1994. Berkat mereka, peran media pada saat itu sangat penting karena menjadi jembatan informasi dari daerah tersebut kepada dunia. Dari berita yang tidak diketahui dunia menjadi berita yang sangat menggemparkan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa peran media sangat penting dalam penyebaran informasi di dunia.

Dalam film tersebut menunjukkan bahwa penjuangan seorang jurnalis dalam mendapatkan suatu informasi atau berita sangatlah sulit dan penuh perjuangan. Namun karena kerja kerasnya tersebut, perjuangan mereka terbayar dengan penghargaan yang di dapatkan. Salah satunya yang di dapatkan oleh Greg Marinovich mendapatkan Pulitzer dengan karya fotoaya “Zulu Spy 1992” (supporters SAANC burning alive a man) dan Kevin Carter mendapatkan Pulitzer Prize dengan karya fotonya “Bearing Witness 1994” (gadis Sudan kelaparan yang di dekatnya ada burung bangkai sedang menunggu gadis tersebut mati untuk dimakan). Bersamaan dengan penghargaan Pulitzer yang diraih Greg, keempat foto jurnalis tersebut kemudian mendapatkan perhatian yang luas dari banyak media internasional. Perhatian tersebut khususnya datang karena kualitas foto mereka yang mampu mengungkap banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui khalayak ramai mengenai peperangan antar suku yang terjadi di Afrika Selatan. Pun begitu, permasalahan pribadi mulai mengintai keempatnya.


Film ini sangat penting bagi perkembangan jurnalis dunia.Karena dalam film ini di gambarkan bagaimana sejatinya pekerjaan seorang jurnalis. Dengan demikian penonton yang menonton film ini sedikitnya akan bisa memahami bagaimana seorang jurnalis dalam bertugas.

Wednesday, 9 April 2014

Untuk Sebuah Hati

Untuk sebuah hati yang masih menanti,menantilah dengan cinta. Cinta yang akan membuatmu menerima apapun kehendak-Nya. Kelak kau akan sadari, cintamu karena-Nya akan membuat penantian itu tak pernah sia-sia..

Untuk sebuah hati yang masih menunggu, menunggulah dengan senyum. Senyuman ikhlas pada siapapun yang selalu menanyakannya. Katakan pada mereka, hatiku tak akan pernah kesepian dalam setiap belaian ketetapan kasih sayang-Nya..

Untuk sebuah hati yang masih mencari, carilah dengan ikhtiar yang suci. Ikhtiar tanpa nafsu dan paksaan waktu, ikhtiar dengan harapan dan ketundukan, melangkah dalam koridor di jalan-Nya..

Untuk sebuah hati yang masih merindu, rinduilah Allah Azza Wa Jalla yang paling layak untuk dirindu. Kelak kau akan tahu, merindukan-Nya adalah penantian dan pencarian yang terindah..

Untuk hatiku & hatimu, sesungguhnya kau dan aku berada dalam genggaman-Nya, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita bersandar kepada-Nya. Jangan pernah meragukan, apa yang sudah ada dalam ketetapan-Nya..

Hari ini kutulis surat untuk sebuah hati, berharap hati ini hanya menanti, menunggu, mencari dan merindu hanya karena-Nya..

Monday, 7 April 2014

Sebait Tembang Indah di Balik Musibah

Musibah adalah sebait tembang indah yang dinyanyikan silih berganti,
Mengajak bumi yang diam jadi begoyang,
Mengajak laut yang tenang jadi bergelombang,
Mengajak gunung yang sunyi meriah bak kembang api..

Musibah mengajarkan kita tentang sabar dan tabah,

Menguatkan jiwa yang lemah,
Menyadarkan hati yang salah,
Menggugurkan angkuh,
Mengubur keluh,
Mencukur kufur,
Membangkitkan syukur..

Musibah adalah saudara tua,

Yang menasehati ketika salah,
Mengingatkan ketika lupa,
Meluruskan ketika tak searah..

Kini tak perlu lagi ada tangis menghujan tanpa henti, 

Menganak sungaikan kepedihan demi kepedihan menyayat hati,
Karena disana: diantara batas hidup dan mati..

Halaman demi halaman takdir masih menanti,

Berkejaran menggerogoti hari,menunggu takdir lain berganti.

Harapan-harapan itu menanti di ambang cita dan impian,

Di depan gerbang masa depan yang tertulis indah dengan tinta keemasan,
Maka tak ada alasan untuk bertahan..

Melangkahlah dengan sempurna..

Tinggalkan saja air mata tiada guna,
karena hidup bukan untuk berkejaran dengan kesedihan melainkan menunaikan sebuah harapan...

Sebait Tembang Indah di Balik Musibah...

karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan...


Monday, 31 March 2014

Diantara Hujan


Saat ku yakini hakikatmu adalah keberkahan,
Maka hadirmu adalah kebahagiaan..
Tentang tawa diantara dinginmu..
Tentang senyum diantara gemuruh langit menyeru..
Tentang temu yang menanam rindu..

Saksimu tajam memandangiku,
Bersamanya aku kembali mengulum senyum,
Melepas tawa,
Menuai cerita..

Terima kasih, hujan…
Hadirmu kembali menyimpan kenangan..
Tentang aku, dia, dintara hujan..


Bandung, Maret 31st, 2014
3:17 PM

--TikaniaN

Wednesday, 26 March 2014

Sahabat Kecilku, Uhibbuki Fillah...

Malam telah bertukar bersama seberkas jingga di pagi hari..
Entah, rinduku tak mampu terbendung kala sapanya menyentuh jiwa, sahabat kecilku...
Mengenang kisah kita adalah upayaku kala rindu melimpahiku..
Mendokanmu adalah mendekapmu dalam jarak..
Terekam kala kebersamaan betahta dalam jiwa..
Mengiringi langkah kita..
Sampai tiba satu hari,
Ketika takdir memaksa kita berjauhan..
Berlepas jemari yang sempat menyatu..
Meski demikian, kita berjalan menuju yang satu..
Entah kapan Allah izinkan ku menyapamu kembali..
Dalam dekap hangat ketulusanmu..
Berharap takdir menuntun kita kembali, mendaki puncak asa yang sempat kita lupakan, kebersamaan dalam keabadian, hingga panggilan-Nya saja yang dapat memisahkan kita...

Sedikitpun aku tak pernah lupa semua tentang kita, tentang kebersamaan kita, tentang perjuangan kita, tentang dokumen kecil yang pernah aku titipkan padamu. Sungguh, tak mampu aku menahan sesak di dada ketika ku tahu kau masih menyimpan dokumen kecil itu. Syukron jazakillaah sahabat kecilku, sampai saat ini engkau masih terlukis indah di kanvas jiwaku, sedikitpun aku tak pernah melupakan semua tentang kita.
Yang ku yakini persahabatan tak berbatas ruang tak berdinding jarak. Semoga ukhuwah ini tetap terjaga, sahabat terbaikku. Sungguh, aku merindukan kebersamaan kita, seperti dulu...

Uhibbuki fillaah...

Friday, 21 March 2014

Jurang Asa

Aku menikmati setiap huruf yang tertuang hingga terangkai sebuah kata dan membentang menjadi sederet kalimat yang selalu mampu menjangkau palung hati yang terdalam...
Melekat dalam ingatan hingga terkadang menari indah dalam benak..
Entah...semisteri inikah perasaanku?
Dan aku menikmatinya...
Terkadang menjadi obsesi atau mimpi belaka..
Meski terasa sulit menerka hati yang selalu menjadi teka-teki...
Kadang kala hatiku meringis perih kala asa tak berbalas..
Kadang pula tersenyum saat sabar menjadi hikmah yang mengalir dari ketidakberbalasan..

Ketika upaya menutup hati tah berbuah manis, maka dengan tersenyum memandangmu menguatkanku lebih dari itu...

Sampai saat pena ini berhenti mendarat, kakiku masih bersimpuh tak mampu meraih atau sekedar mengetuk pintu hatimu...

Kau...

Berdinding jarak, berbatas ruang dan waktu...
Seandainya aku mampu berkata, dapatkah sedikit kau putar bola matamu? Lihatlah aku! Menantimu dalam diam, tak kuasa mereka atau sekedar melihat harapan tersimpul di wajahmu..
Aku masih disini, bertahan dalam penantian..
Entah sampai kapan,
Dan aku menikmatinya...
Meski semu terekam jelas...

Aku...

Terjatuh dalam jurang asa tiada berujung..
Semakin dalam  aku tenggelam, aku bertahan...
Dan aku menikmatinya...

Sunday, 9 February 2014

Benih Harapan

Pertemuan pertama menyisakan kenangan...
Pertemuan kedua menyisakan kerinduan...
Namun bagiku pertemuan pertama menyisakan keduanya...
Hingga mata pun enggan melipat kelopak untuk sekedar menyandarkan lelah...

Akankah aku merasakan kembali rasa itu? Rasa yg telah lama hilang?
Mungkinkah akan kembali?
Ku harap hanya untuk dia saja Yaa Allah...
Hanya untuk orang yang akan menjadi Imam dalam hidupku...
Yang setia di sampingku menuntun langkahku meniti jalan kehidupan setelah ini...

Allahku...
Dia tak ingin menjadi orang yg bertahta di hatiku,
Dia hanya ingin menjadi orang ke sekian di hatiku..
Tentunya setelah Engkau dan Rasul-Mu..
Maka dari itu bimbing aku, Allah..
Bimbing aku ketika rinduku padanya melebihi rinduku pada-Mu..
Karena aku pun ingin demikian..
Ingin menjadi yang ke sekian di hatinya...
Setelah Engkau dan Rasul-Mu...

Allahku...
Seandainya Engkau bertanya "Apa harapan terbesarku saat ini?"
Maka bolehkah aku menjawab "Halalkan aku dengannya kelak. Izinkan aku membersamainya dalam taat. Tetapkanlah dia sebagai penyejuk hati dan pandangan. Menjadi pengingatku akan kuasa-Mu serta penguat rasa akan cintaku pada-Mu..."
Jika rasa ini benar untuknya,
Peliharalah hati ini agar senantiasa terpaut padanya...

Aku tau, Allahku...
Saat ini aku bukan orang yg pantas mendampinginya...
Namun, bolehkah aku memantaskan diriku untuk dirinya kelak?

Allahku...
Lirih ku memanggil-Mu...
Hujan pun bertasbih dalam pekat malam menyebut nama-Mu..
Sampaikan rinduku untuknya...
Dia yang Engkau takdirkan untukku...

--TikaniaN
Bandung, February 10, 2014-3:04 AM

Monday, 3 February 2014

Sebaris Rindu


Derik jangkrik menghantar malam dalam keheningan
Senandung hati menghantarku pada kerinduan
Sedang apa dirimu disana?
Aku tau kau sedang lelap berteman lelah dalam dekap kain tebal di tubuhmu...

Setitik angan berkelebat bersama pekatnya langit malam...
Ada kerinduan menyeruak dalam dada...
Memadu kasih dalam ikatan suci,
Mengecap rasa dalam indahnya bening kasih cinta suci darimu..

Dear Calon Imamku...
Dimanapun engkau berada,
Ketahuilah saat ini kerinduan menghujam hatiku
Berharap kau hadir menyapa lembut dalam mimpiku
Melukis senyum dalam teduhnya tatapanmu

Tak banyak yang dapat ku perbuat
Hanya rintik doa yang tak henti menghujani sujudku...

Dear...
Hanya sebaris kata ini yang mewakili rinduku padamu,
Berharap suatu saat Allah pertemukan kita dengan cara-Nya Yang Maha Indah
Entah kapan dan dimana,
yang ku yakini titian pencarian sedang ku daki..
Doa dan penantian sedang ku nikmati...

--TikaniaN
Thursday November 28, 2013 at 12:17 a.m

Friday, 24 January 2014

Aku...

Aku tak butuh banyak orang yang mengagumi dan memuja budi baikku, aku hanya perlu beberapa orang yang senantiasa berdoa dengan tulus...
Aku tak perlu banyak orang untuk selalu setia pada sisi baikku, aku hanya perlu beberapa orang yang dengan tulus memberikan masukan dan nasehat kepadaku...

Kadangkala aku tak butuh pujian,
Kadangkala pun aku justru haus akan kritikan dan beberapa saran,
Yang banyak itu kadang menipu dan kamuflase,
Yang sedikit itu kadang menjadi spesial dan berarti...

Tak banyak yang aku minta,
Aku hanya banyak-banyak meminta..
Tak banyak yang tahu tentang aku,
Karena aku tak ingin diketahui banyak-banyak..

Kadangkala aku terlihat tak menyukai dan membenci,
Tapi dalam hati aku sedang banyak-banyak bersyukur..
Kadangkala aku terlihat menunduk dan berdiam lidah,
Tapi dalam hati aku sedang meminimalisir perasaan dan perkataan..

Tak semua yang manusia lihat itu adalah aku,
Tapi parahnya...
Sesuatu yangu manusia nilai itu adalah apa yang mereka lihat,
Bukan dari apa yang mereka dengar..
Bukan dari apa yang mereka baca...
Tak jadi masalah, karena itu bukan sebuah masalah,
Masalah pun tak menganggapku ada...

Biarkan aku terlihat mengeluh...
karena hanya Allah yang tahu sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur,
Biarkan aku terlihat diam dan menunduk,
Karena hanya Allah yang tahu sesungguhnya aku sedang menghadapkan hatiku pada-Nya..

Aku...
Bukan selamanya ternilai dari yang terlihat,
Tapi tak selamanya pula terdefinisi dari apa yang terbaca dan tertulis...
Aku...
Hanya aku yang tahu dan mngerti...

Saturday, 18 January 2014

Sepasi Garis Malam

Berselimut dingin, berbalut sepi, berteman langit gelap, beriring gerimis berirama
Lewati denting jarum jam ku lalui waktu garis malam
Sejauh mata memandang
Menerawang menembus bayang
Menepis kenangan..
Terlelap dalam bayang dan angan
Hingga ku sadari seru-Nya memecah semua bayang
Berlalu tanpa arti
Lenyap...

Monday, 18 November 2013

Tentang Hati

Untuk jiwa yang masih terasing di hatiku...
Terima kasih...
Telah menanam kasih dalam indahnya rasa..
Telah menyemat doa dalam seuntai harapan..
Terima kasih pula telah menabur ikhlas dalam hambarnya cinta..

Ketika aku menelusuri teka-teki hati yang menanti,
ku dapati dirinya masih terpaku kian membisu..
Ketiku ku ketuk ruang hati yang masih terkunci,
tak bergeming meski sapaan lembut menyentuh hatinya..
Tak tau apa yang di nanti..

Ku coba meresapi keresahan yang ada,
kutunggu jawabnya dalam sebuah harapan, ku tata dalam sebuah sujud bernama istikharah,
dan ku rangkai dalam seikat bunga bernama tawakal.

Sadari ketika hati masih terkunci,
atas sebuah rasa yang kian menepi..
Terukir untuk orang yang di nanti, bukan dia yang telah membual janji,
tapi dia yang telah di janjikan-Nya...
Walau tersamar menggantung diatas sana,
yakini ini bukan fatamorgana..
Eratkan genggaman sabar dan tawakal,
dalam epicentrum penantian..

Maafkan aku...
Tak mampu memupuk cinta dalam rasa yang kau tanam..
Tak mampu merajut harapan yang kau semat..
Tak mampu pula menuang kasih dalam cinta yang kau buat..

Simpanlah rasa itu untuk dia yang tepat,
yang menanti dalam cerminan ikhlasmu, menjadi pelengkap rusukmu..
Entah itu aku atau yang lain..
Cukup tanam sabar dan ikhlas..
Pupuklah dengan doa yang kau semai..
Semua akan indah pada saat Dia menjadikannya indah,
yakinlah...

Wednesday, 13 November 2013

Big Think

Satu hal wajar rasanya bila aku masih menyimpan trailer skenario kehidupan yang telah dilalui di masa silam. Baik ataupun buruknya semua menyimpan sebingkai hikmah yang terlukis di dalamnya. Semua bukan membuatku tenggelam dan hanyut mengalir bersama kenangan, tapi menuntun dan memapahku untuk memetik pelajaran ditumpuan sebuah masalah, karena aku tak pernah mengharapkan Tuhan memutar waktu untuk kembali ke masa itu, karena tanpa masa itu aku takkan mampu sekuat ini.

Demikianlah, kesakitan terkadang membuatku dewasa. Aku yakin semua orang memahami itu, tapi sedikit orang yang dapat mengaktualisasi rasa itu, rasa ikhlas dan penuh syukur atas hikmah yang diberikan. Terkadang hujatan dan cacian tertuang mengatasnamakan ketidakadilan. Padahal Tuhan itu Maha Adil, hanya mungkin manusia yang tidak pernah puas atas segala apa yang mereka miliki.

Aku pun masih perlu menyelami rasa, menemukan arti sejatinya hati, tentang kesungguhan rasa dan kefitrahan yang sejatinya menyelimuti dirinya~

Apa Kabar Hatiku?


Apa kabar hatiku?
Masihkah kau melipat senyum?
Atau lukamu masih nampak menganga? Hingga kau hanya mampu meringis menah perih..
Oh ya? Bagaimana dengan pilihanmu?
Masihkah di hadang aral?
Sejenak mungkin kamu perlu menyeka butiran peluh yang membasahimu, karena perjalananmu masih teramat panjang.

Apa kabar hatiku?

Jerakah kamu menanam harapan?
Ahh.. Mungkin ini membingungkan, karena kamu terlalu sibuk membalut luka atau mungkin kamu telah tenggelam dalam genangan air mata dariku.

Apa kabar hatiku?

Masihkah engkau mampu berdiri? Genggam tanganku dan katakanlah "Aku masih kuat!"

Apa kabar hatiku?

Masihkah engkau menyekap mimpi?
Bagaimana dengan janjimu?
Oh ya, aku bahkan lupa janji semu telah menghanyutkanmu dalam ketidakyakinan.

Apa kabar hatiku?

Apakah dirimu menanam benci setelah dirimu menelan kecewa?
Aku harap tidak. Karena aku yakin engkau lebih mengerti hikmah di balik peristiwa.

Apa kabar hatiku?

Masihkah berkeping-keping?

Yakinlah, masih ada harapan yg bisa kau gapai. Jangan mengejar pesawat yg telah jauh pergi meninggalkanmu. Kejarlah uluran tangan Maha Kasih yang dekat denganmu saat ini, bahkan lebih dekat dari urat nadimu. Dialah yang akan membawamu pada secercah harapan yang masih tersisa. Dalam keremangan cahaya asa, dengan sekeping doa dan segenggam ikhtiar. Patrikan dalam dirimu hanya Dia tujuanmu!

Percayalah..
Kebahagiaan sejati akan kau raih..





-Tika Kania Nurazizah-
September 23, 2013 at 6:21pm

Datang dan Pergi

Satu hal yang realistis jika siklus datang dan pergi itu terjadi secara berkala dalam kehidupan manusia. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Akan tetapi terkadang kita tak pernah membuka mata ketika kita sudah terlelap dalam hangatnya rasa dan Tuhan hadirkan yang dinamakan 'Cinta & Kasih'. Adakalanya kita juga sulit menerima arti dari sebuah 'kehilangan' dan 'kepergian', karena insting m...anusia pada hakikatnya menolak impuls yang bersifat negatif. Tapi semestinya kita menyadari betul akan hal itu supaya kita mempersiapkan mental dan hati kita ketika masanya telah tiba.

Kita tak perlu mengeluh 'kenapa dia ninggalin aku?' atau 'kenapa harus pergi secepat ini?' karena cepat atau lambat semua yang datang pasti akan pergi dan segala apa yang kita miliki pasti akan di ambil kembali.

Sikapi dengan mencurahkan semuanya pada Allah semata. Jika perlu seseorang untuk menjadi sandaran, cukup ungkapkan untuk mencari solusi, bukan untuk mengeluh dan melampiaskan kekesalan.
Tak perlu juga kita menyalahkan orang yang meninggalkan kita tanpa kita menyadari kesalahan kita. Tak perlu kita menyalahkan keadaan, curahkan keluh dan kesah kita kepada Allah, karena hanya Dia-lah satu-satunya Yang Maha Mengerti.

Ketika kita yakin bahwa ini bagian dari cobaan dan ujian, maka bulatkan tekad untuk mampu bangkit dari keterpurukan kita.
Laa yukallifullaahu nafsan illa wus'ahaa (Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. <QS. Al-Baqarah:283>)

Tiada lain yang dapat kita ambil dari suatu peristiwa selain hikmah di dalamnya.
Yu'tilhikmata man yasyaa u wa man yu'tilhikmata faqad uutiya khairaan wamaa yadzdzakkaru illaaa ulul albaabi (Dia Memberikan hikmah kepada siapa yang Dia Kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. <QS. Al-Baqarah:269>)

So, masih mau galau karena ditinggal pergi?
Ada Allah bersama kita =))
Ayo, keep spirit!

Wallahu a'lam...



-October 24, 2013- 

Tuesday, 12 November 2013

Cinta Dalam Diam



“Wid, daftar hadir udah di siapkan?”
“Udah. Tapi materinya belum di perbanyak.” Keluhku  sambil merapikan berkas materi untuk kajian minggu ini. Ku lihat Kak Zian masih sibuk dengan netbook di hadapannya.
“Kalau bisa perbanyak sekarang, minggu ini jumlah anggota yang hadir bakal lebih banyak dari sebelumnya.” Sarannya dengan mata masih tertuju pada layar netbook-nya.
“Besok aja deh, gak apa-apa ya…” Bujukku dengan harapan aku bisa segera pulang. Sejenak  Kak Zian menatapku tajam tanpa ekspresi. Dan…
“Ya udah. Asal nanti pas kajian udah ada.” Senyumnya ikut tersungging. Senang sekali rasanya. Aku pun mengucap syukur dan tersenyum bahagia mendengar perkataannya.
“Siap laksanakan!” Jawabku ngasal sambil menghormatnya, Kak Zian hanya menggeleng-geleng kepala melihat apa yang aku lakukan. Mungkin dipandang childish (kekanak-kanakan), tapi aku tak perduli.

***

            Sayup-sayup ku buka mataku perlahan, shubuh yang ku rasa masih gelap tanpa sinar surya, sejenak ku siuman, ku angkat tubuhku yang ringkih ini berusaha mengumpulkan kesadaranku setelah lama terlelap dalam mimpi tidurku. Ku lirik jam di dinding menunjukkan pukul 04.30 pagi. Kubangkitkan tubuhku dari tempat tidurku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

“Kak, hari ini pulang jam berapa?” Tanya Mama sambil menyiapkan sarapan untukku dan kedua adikku.
“Hari ini pulang sore, Ma. Ada kajian sampai jam 4.” Ku raih selai coklat sebagai teman rotiku untuk pagi ini.
“Gak bisa lebih awal, Kak?” Tanya Mama seraya menuangkan susu coklat ke dalam gelasku.
“Gak bisa kayaknya, Ma. Soalnya hari ini Kakak di tugasin jadi moderator. Jadi harus ikut sampai akhir acara.”  Jelasku seraya menyantap sarapan pagi.
“So sibuk Kakak mah.” Celetuk Nagita adikku yang paling kecil.
“Uh,kamu ngerti apa urusan orangtua, anak kecil!” Tiba-tiba Rasya mengomentari.
“Emang Kak Rasya bukan anak kecil gitu?” Nagita menjawab dengan kesal. Ku fikir perang dunia ke-3 akan segera dimulai, tapi sayang, Mama segera melerai.
“Sudah…Sudah… Kalian lagi sarapan kok malah berantem. Ayo cepet, nanti terlambat.” Seru Ibu sambil merapikan tas Nagita. Aku hanya tersenyum melihat raut muka Nagita yang cemberut. Sementara Rasya masih menikmati sarapan paginya tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
“Kak, mau bawa buat bekal di sekolah gak?” Ku lihat muka tulus seorang ibu yang memperhatikan anaknya penuh kasih sayang.
“Boleh, Ma.” Jawabku dengan senyum terbaikku.
“Mau bawa nasi atau roti sama susu?” Tanya ibu memilih minuman di lemari es.
“Hmm…roti sama susu aja, Ma. Biar gak ribet.” Ku rapikan baju dan atribut seragam Nagita yang sedikit berantakan. Senyumnya tersirat memandangku.

***

            Lantunan bel mengalun dengan indah, mengikuti melodi dan ritme yang berjalan beriringan dengan derap langkah pasukan pelajar, memberikan intruksi bahwa perang akan segera dimulai.
Perang untuk melawan kebodohan dan ketertinggalan. Langkahku ku percepat seiring dengan brakhirnya intruksi alunan indah itu.
“Widia! Tunggu!” Langkahku tiba-tiba terhenti saat seseorang memanggilku dari belakang. Ku palingkan wajahku dan kulihat Kak Riza menghampiriku.
“Ada apa Kak? Udah bel nih..” Tanyaku heran.
“Nanti kajian jam berapa?” Tanyanya dengan nafas teresengal-sengal.
“Hmm… jam 1 siang. Emang kenapa?” Aneh ketua kok gak tau sih. Pikirku dalam hati.
“Ada waktu gak sebelum berangkat ke Kampus?” Semakin aneh saja aku dibuatnya.
“Ada sih, tapi Aku mau ke perpustakaan dulu, Kak. Memangnya ada apa?” Tanyaku penasaran.
“Ya udah, sekalian Kakak antar deh. Ada yang mau Kakak biacarakan.” Nafas memburunya mulai kendur.
“Kenapa gak biacara sekarang atau nanti sebelum kajian Kak?” Semakin bingung aku di buatnya.
“Gak bisa, ini penting dan gak bisa dibicarakan dalam waktu yang singkat.” Jelasnya sedikit memelas.
“Bisa kan?” Tanyanya kembali menunggu kepastian.
“Hmm..liat nanti aja, Kak.” Jawabku masih bingung. Tak mengerti dengan apa yang ia katakan.
“Ya sudah, pokoknya nanti pulang sekolah Kakak tunggu di depan gerbang ya.” Kali ini terkesan sedikit memaksa.
Insya Allah…” Jawabku masih sedikit menggantung.
“Ya udah ya. Makasih sebelumnya.” Senyumnya tersungging meninggalkanku. Aku menggaruk-garuk kepalaku,masih heran dengan tingkah dia pagi ini.

***

“Wid,kamu bisa bantu saya buat nyari sumber lain untuk referensi kajian nanti?” Kak Zian menghampiriku saat aku tengah duduk di koridor depan kelasku.
“Boleh Kak. Gimana?”
“Kamu bawa modem gak? Browsing dari internet aja, biar gak susah. Tapi cari yang aktual, biar jadi sumber yang objektif nanti pas kajian.” Perintahnya mengubek-ubek isi tasnya.
“Ini Kak modemnya.” Seketika Kak Zian langsung menepuk jidat, kulihat dia ternyata pusing mencari modem yang memang dia tidak membawanya. Aku tertewa geli melihatnya.
“Widi…” Tiba-tiba seseorang memanggilku saat aku tengah asyik mengerjakan tugasku, Kak Riza.
“Ya Kak,kenapa?”
“Jadi ke perpus kan?”
“Ya Kak, tapi ini mau nyari dulu materi buat kajian nanti.” Aku berusaha mencari alasan berharap Kak Riza mengurungkan niatnya menemaniku ke perpustakaan. Jujur saja aku malas kalau ke perpus ditemani, lebih enak sendiri.
“Kenapa kamu yang mengerjakan? Ini tugasnya Zian kan?”  Kak Zian langsung menatap Kak Riza tajam.
“Tapi kan aku juga bergerak di bidang yang sama Kak. Jadi aku juga punya kewajiban untuk mengerjakannya.” Segera aku menyela sebelum Kak Zian terpancing emosinya. Aku mngerti perasaan Kak Zian. Tapi tiba-tiba Kak Zian merebut netbook dari tanganku.
“Gak apa-apa Wid, sini saya saja yang kerjakan. Kamu silahkan kalau ada tugas. Lagian udah mau beres kok.” Nadanya datar tanpa ekspresi. Aku mengerti Kak Zian tidak suka dengan kehadiran Kak Riza ditengah tugas kami.
“Tapi Kak….” Perkataan ku terpotong oleh Kak Riza.
“Udah yuk! Kata Zian juga udah mau beres tuh.” Kak Riza benar-benar merusak suasana.
“Ya kok bentar lagi juga beres. Silahkan Widia. Tugas sekolah jadikan sebagai prioritas utama.” Aku bingung harus mengikuti yang mana diantara kedua orang ini. Suara ku parau dan tak mampu berkata apa pun.
“Maaf ya Kak…” Hanya itu yang mampu ku ucapkan dengan menyesal. Aku merasa aku tidak menjalankan tugasku dengan baik.
“Gak apa-apa.” Sekali lagi muka Kak Zian tanpa ekspresi. Aku masih tertunduk dihadapannya.
“Nunggu apa lagi Wid? Ayo!” Kak Riza terlalu memaksaku. Aku yakin dia bukan ingin mengantarku, pasti demi kepentingan dia pribadi.
“Silahkan. Gak apa-apa. Dik.” Kali ini Kak Zian menatapku dengan tulus. Senyumnya mengembang. Dan untuk pertama kalinya hatiku merasa senang saat Kak Zian memanggilku Adik.
“Terima kasih Kak.” Senyumku mengembang untuknya.

***
“Udah dapat Wid bukunya?” Kak Riza menghampiriku saat aku tengah asyik mencari buku yang aku butuhkan.
“Belum.” Kususuri bentangan lemari buku, ku baca setiap cover-nya satu-persatu demi mendapatkan buku yang aku butuhkan.
“Nyari buku tentang apa Wid?” Kak Riza ikut menatapku dengan santai.
“Tentang pengobatan tradisional. Padahal kemarin ada di sekitar sini. Kok sekarang gak ada ya?” Aku mulai resah saat buku yang kucari tak kunjung ditemukan.
“Ini?” Kak Riza membolak-balik sebuah buku. Kulihat ternyata buku yang aku cari. Bagaimana bisa dia menemukannya?
“Kok bisa ada ditangan Kakak?” tanyaku heran sambil merebut buku tersebut.
“Bisa dong. Dari awal Kakak tau buku yang kamu butuhkan.” Senyumnya menggodaku.
“Terus kenapa gak di kasih dari tadi?” Tanyaku sedikit kesal.
“Ya pengen iseng aja, liat kamu pusing nyari-nyari buku. Hehe…” Jawabnya yang membuatku kesal.
“Gak lucu.” Aku meninggalkan lemari buku dan duduk di tempat membaca.
“Gitu aja kok marah. Maaf deh.” Bujuk rayunya membuatku semakin muak dengan candanya yang tak lucu itu.
“Sebenarnya apa yang Kakak mau?” Tanyaku dengan nada sedikit tinggi. Aku lihat Kak Riza sedikit tersentak.
“Ada yang mau Kakak bicarakan. Tapi Kakak ingin Widi jangan marah dulu.” Sejenak dia menghela nafas dan melanjutkan pembicaraannya.
“Kakak ingin bilang kalau Kakak suka sama Widi” Aku tersentak mendengarnya. Hampir tidak percaya. Karena selama ini ku tau Kak Riza dekat dengan Kak Koni, aku pun sudah anggap Kak Riza sebagai Kakak kandungku sendiri.
“Maaf kalau Kakak lancang, Kakak hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hati Kakak yang sebenarnya.” Mencoba meyakinkanku. Mungkin agar aku mengerti apa yang dia rasakan. Tapi aku tak mampu berkata-kata, aku hanya terdiam.
“Kakak gak minta Widi untuk jawab sekarang.”  Kak Riza melanjutkan perkataannya.
“Setengah jam lagi kajian dimulai. Aku gak boleh terlambat.” Ku alihkan pembicaraan ini, ku lirik jam menunjukkan pukul 12.30.
“Ya udah, kita pulang sekarang. Bukunya udah cuma itu aja?” Tanya Kak Riza mengerti keadaanku.
“Ya udah.” Ku langkahkan kakiku meninggalkannya.
“Aku naik angkutan umum aja, Kak.” Ku ambil kebijakan untuk tidak ikut pulang bareng Kak Riza.
“Lho kenapa? Kakak juga kan ikut kajian. Sekalian aja bareng.” Kak Riza terlihat heran dengan keputusanku. Aku tak mampu beralasan, akhirnya aku pun ikut bersamanya.

***
“Wid, daftar hadir dibawa kan?” Kak Zian menghapiriku saat aku baru saja tiba di Kampus, tempat kami melaksanakan kajian.
            “Dibawa Kak.” Aku segera mengeluarkan kertas daftar hadir dari dalam tasku.
“Materi udah di perbanyak?” Deg. aku dikagetkan oleh pertanyaan Kak Zian. Aku lupa belum memperbanyak materinya.
“Maaf Kak, lupa belum di perbanyak.” Sedikit memelas menatap Kak Zian. Ku lihat Kak Zian sedikit kesal.
“Saya kan udah suruh tiga hari sebelumnya Widi.” Kali ini Kak Zian mantapku serius.
“Ya Kak, maaf..” Hanya itu yang mampu ku ucapkan.
“Mana kertasnya?” Kak Zian terlihat kesal.
“Biar aku perbanyak sekarang Kak.” Ku coba meminta penangguhan.
“Gak usah. Udah gak ada waktu lagi.” Kata-katanya sedikit menyinggungku, tapi aku mengerti ini kesalahanku.
“Kondisikan pesertanya sekarang.” Perintahnya meninggalkanku. Akupun segera berlalu dengan penuh penyesalan. Aku marah kepada diriku sendiri, kenapa bisa lupa? Ku coba mengingat kejadian tadi bersama Kak Riza. Sebenarnya aku sudah berniat untuk memperbanyak kertas materi tersebut sebelum berangkat ke perpus. Ah…semua karena Kak Riza.Tapi tiba-tiba aku sadar aku tak berhak menyalahkan siapa pun.
Peserta sudah dikondisikan, peralatan yang dibutuhkan telah siap.Kajian bisa segera di mulai. Ku beranikan untuk menghampiri Kak Zian, ku tau dia masih kesal dengan ketidakprofesionalanku.
“Kak, mulai sekarang?” Ku lihat Kak Zian tengah berbincang dengan Kak Riza.
“Ya silahkan. Nanti di akhir saya minta waktu untuk menyampaikan sedikit prakata.” Pintanya dengan serius.
“Baik Kak.” Mencoba mengurungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut. Tidak biasanya Kak Zian ingin menyampaikan prakata.
***
Kajian pun berlangsung dengan lancar dari awal sampai akhir. Saatnya Kak Zian menyampaikan prakatanya.
Terima kasih kepada moderator yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan sedikit prakata kepada teman-teman yang telah berkenan hadir pada saat ini.” Sejenak Kak Zian menghela nafas. Terlihat sempat tertunduk lesu. Ditengah perhatianku pada Kak Zian, tak sengaja aku melihat Kak Riza di sampingnya yang sejak tadi memperhatikannku. Aku langsung mengalihkan pandanganku.
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada sahabat sekalian atas partisipasinya dalam acara kami. Kami bukan apa-apa tanpa kehadiran sahabat sekalian.” Perhatianku tiba-tiba beralih kepada Nadia yang membisik di telingaku.
“Wid, kamu sadar gak dari tadi Kak Riza merhatiin kamu terus.” Bisiknya menggelikan di telingaku.
“Gak tau, aku gak merhatiin Kak Riza, yang lagi ngomong kan Kak Zian.” Jawabku pura-pura tidak tau.
“Dia suka lho sama kamu.” Pernyataannya membuatku terkejut. Kenapa dia tahu? Padahal aku bermaksud tidak memberi tahu siapa pun.
“Ngaco kamu. Kata siapa?” Sekali lagi aku pura-pura tidak tahu.
“Kamu gak percaya sih. Aku denger langsung dari orangnnya.” Jawaban Nadia membuat aku bengong seketika.
“Kok bisa?”
“Ya bisa lah. Terima aja Wid, sayang kalau gak diterima. Banyak perempuan yang mau sama Kak Riza. udah baik, pintar, ketua Himpunan Pelajar  lagi, apa yang kurang coba?” Nadia seolah mendoktrinku agar aku mau menerima cintanya Kak Riza.
“Entahlah…Aku ingin mencoba menjalaninya, tapi aku gak mau jika harus pacaran.”
“Kok gitu? Jadi, maunya TTM-an gitu? Emang ada orang lain yang kamu suka?” Nadia mulai memandangku penuh kesungguhan.
Aku bingung dengan pertanyaan Nadia, kurasa tak ada. Tapi aku pun tak mengerti.
“Mungkin ini pertemuan terakhir saya dengan sahabat sekalian…” Pernyataan Kak Zian membuyarkan lamunanku.
“Ayah saya dipindahkan tugas ke Kalimantan Barat, jadi otomatis saya juga harus pindah sekolah.” Ku coba mencerna setiap perkataannya. Ada rasa yang berbeda saat ku dengar perkataan itu.
“Maafkan saya jika selama ini saya mempunyai banyak kesalahan kepada sahabat sekalian..” Kak Zian melanjutkan kalimatnya dengan kepala tertunduk. Aku pun semakin tak mengeti dengan perasaanku.
“Untuk Widia…” Aku langsung memandang Kak Zian.
“Tetaplah semangat dalam menjalankan tugas dan kewajiban kamu. Gapailah tujuanmu, raihlah impianmu, patrikan semangat dan iman dalam dadamu.” Mataku berkaca-kaca mendengar kalimat tersebut. Belum sempat Kak Zian melanjutkan perkataannya, aku tertunduk menahan sesuatu yang menyesak di dada. Perlahan butiran air mata berjatuhan, tertumpah dan mengalir deras.
“Jadilah pejuang yang berguna bagi banyak orang. Selamat jaalan kawan, kelak Tuhan akan mempetemukan kita dalam bingkai pertemuan yang lebih indah. Insya Allah…” Perkataan itu membuat air mataku semakin mengalir deras.
Terasa ada yang hilang dari dasar jiwa. Entah perasaan apa yang ku rasa saat ini aku pun tak mengerti.
Kami mengantar keberangkatan Kak Zian dengan penuh haru. Aku tak mampu berkata apapun, terasa kaku membisu.

***

Kulangkahkan kakiku menelusuri jalan di komplek perumahanku. Sejuknya embun pagi merasuk hingga tulang sum-sumku. Udara segar yang terhirup menyejukkan hingga relung hati. Tiba-tiba suara derap langkah seseorang menggugurkan kedamaianku.
“Rajin kamu pagi-pagi udah olahraga.” Lagi-lagi Kak Riza hadir ditengah ketenanganku.
“Aku hanya ingin merasakan udara segar di pagi hari tanpa polusi asap kendaraan.” Aku menjawabnya dengan mengurangi kecepatan langkahku.
“Kakak juga pagi-pagi kok udah ada disini?” Heran dengan keberadaan Kak Riza.
“Setiap weekend Kakak memang suka lari ke daerah sini setiap pagi.”
“Oh…” jawabku malas.
“Widia…” Panggilannya membuka mataku dari kenikmatan embun pagi.
“Kenapa?”
“Bagaimana jawaban dari pernyataan Kakak tempo hari itu?”
“Yang mana?” Ku coba mengingat saat aku bersama Kak Riza. Aku mulai ingat dan aku kini sudah tau jawabannya.
“Kamu ingat kan?”
“Ya, aku ingat.”
“Terus? Gimana?” Tampaknya Kak Riza sudah tidak sabar menunggu jawabanku.
“Awalnya aku masih bingung dan tidak mengerti dengan perasaan yang aku rasa terhadap Kakak.” Ku tarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk berhati-hati dalam berkata agar tidak menyinggung perasaannya.
“Tapi kini aku sadar dan mengerti perasaanku…” Ku hentikan langkahku. Ku tatap Kak Riza dengan penuh kesungguhan. Aku yakin dia mengharapkan jawaban yang lain.
“Aku ingin memuliakan cintaku bersama Kakak, tapi bukan dalam ikatan pacaran.”
“Maksud kamu?”
“Itu jawaban yang ingin aku katakan sebelumnya.” Ku coba meresapi setiap perkataanku.
“Kakak gak ngerti maksud kamu.” Terlihat raut muka bingung dan cemas yang bersatu padu dalam satu keinginan semu.
“Kini aku sadar dengan perasaanku yang sebenarnya. Maafkan aku Kak, aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi aku hanya tak ingin membohongi Kakak dan diri aku sendiri.”
“Maksud kamu, kamu gak bisa nerima Kakak gitu?” Pertanyaan yang cukup berat bagiku.
“Aku menerimamu Kak, tapi sebagai Kakak, bukan sebagai pacar.” Ku lihat kekecewaan terpancar dari mukanya.
“Biarkan perasaan ini mengalir apa adanya mengikuti alirannya. Aku hanya tak ingin jauh darimu jika suatu saat Tuhan menakdirkan hubungan kita berakhir. Boleh saja dalam hidup ini kita mengenal istilah –Mantan Pacar-, tapi aku tak mau mengenal istilah –Mantan Kakak-. Itu yang aku inginkan Kak.” Perkataan itu terucap begitu saja.
“Kakak ngerti Wid.” Kali ini pancaran kekecewaan itu mulai berkurang.
“Lantas, siapa pilihan kamu yang kamu inginkan?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Seiring berjalannya waktu, Tuhan akan menunjukkannya kepadamu.” Kak Riza hanya tersenyum menanggapi pernyataanku.
Ku tengadahkan kepalaku memandang luasnya lagit pagi. Ku lihat senyum Kak Zian tersirat dari awan yang berarak menyusuri langit. Ku tahu kau mengerti perasaanku, gumamku dalam hati. Ku pejamkan mataku, kuresapi keindahan pagi ini. Bukan karena kehadiran Kak Riza di sampingku, tapi karena aku mampu jujur dengan perasaanku yang sebenarnya. Meski kini Kak Zian tak disampingku. Ku yakin hembusan angin ini akan menyampaikan asaku padanya..

-SELESAI-


Tika Kania Nurazizah
Saturday, November 3, 2012
08:15 am